Halaman

    Social Items

IKLAN HEDER


Pria asal Pontianak, Herli Rubianto atau Robi Anjal mendadak viral karena aksinya yang pura-pura mati lalu hidup kembali. Kepada polisi, Robi mengaku aksi ini dilakukannya karena tak memiliki uang untuk pergi ke Sampang. 

Usai dari Pontianak dan berada di Solo, Robi dan istrinya hendak ke Sampang. Namun di tengah perjalanan kehabisan ongkos. Robi pun akhirnya menumpang orang dan turun di Ponorogo. 

Sesampainya di Ponorogo, Robi dan istrinya ingin melanjutkan perjalanan ke Sampang. Akhirnya Robi memiliki ide untuk berpura-pura mati dan berwasiat agar dimakamkan di Pondok Pesantren Karongan, Desa Tanggumong, Kecamatan Kota Sampang, Madura. 

Wasiat ini agar Robi bisa dijemput ambulans ke sana. Selain itu, hal ini dimaksud agar bisa ke Sampang secara gratis. 

"Jadi akal-akalan agar biaya ke Madura ada yang biayain. Sempat perjalanan dari Pontianak ke Solo, sampai Solo kehabisan ongkos, terus numpang lah salah satu mobil ke Ponorogo. Baru dari Ponorogo punya inisiatif seperti itu," papar Kasubbag Humas Polres Sampang Iptu Eko Puji Waluyo kepada detikcom di Surabaya, Selasa (30/7/2019). 

Tak hanya itu, Robi pun menyuruh istrinya untuk meminta bantuan ke ponpes tersebut. Pasalnya, istri Robi merupakan alumni ponpes. 

"Motifnya karena dia kehabisan ongkos. Salah satunya dari Pontianak dia ndak punya uang. Karena istrinya punya kenalan salah satu pengurus Ponpes akhirnya menelepon dan minta bantuan ke sana. Kalau minta uang langsung kan ndak mungkin, jadi pura-pura mati lalu disiapkan ambulans gitu," imbuhnya. 


Sebelumnya, video berdurasi 4 menit 49 detik viral di media sosial. Video tersebut memperlihatkan pria bernama Robi Anjal yang sudah meninggal tiba-tiba hidup kembali. Padahal, kondisi Robi tersebut sudah memakai kain kafan di setengah tubuhnya.

Dalam video viral itu, tampak jasad Robi diturunkan dari mobil ambulance. Namun, tiba-tiba jasad yang mengenakan kain kafan separuh badan ini memperlihatkan tanda-tanda jika masih hidup. 

Dari atas ranjang ambulans, Robi terlihat kejang dan berteriak hingga tubuhnya jatuh dari atas ranjang. Sementara nampak di sekitar Robi beberapa santri hingga ulama di ponpes tersebut terkejut. [dtk]

Ini Motif Sebenarnya Pria di Sampang yang Pura-pura Mati Lalu Hidup Kembali






Polres Sampang, Jawa Timur, akhirnya melepas Robi Anjal (28) warga asal Pontianak, Kalimantan 

Barat, yang juga aktor sandiwara pura-pura mati yang sempat menggemparkan warga Kabupaten 

Sampang pada  Jumat (26/7/2019) malam kemarin. Dilepasnya Robi karena tidak ada unsur pidana atas apa yang dilakukannya tersebut. Kapolres Sampang, AKBP Budhi Wardiman saat dihubungi 


dilansir dari Kompas.com, Selasa (30/7/2019) menjelaskan, sandiwara yang diperagakan Robi tidak ada unsur pidana dan tidak cukup bukti untuk menjeratnya sebagai pelanggaran hukum. Selain itu, tidak ada orang lain yang dirugikan atas tindakannya.

Budhi menambahkan, ada permohonan dari salah satu keluarga Robi asal Pontianak yang mengajukan kepada Polres Sampang, agar dipulangkan jika sudah tidak memenuhi unsur pidana. "Kami sudah 


kembalikan kepada pemohon asal Pontianak bersama dengan istri dan satu orang anaknya," tambah Budhi. Sebelum diserahkan kepada pihak pemohon, Polres Sampang sudah membuat surat perjanjian yang ditandatangani langsung oleh Robi sendiri. Salah satu poin dalam surat perjanjian tersebut menjelaskan bahwa, Robi tidak akan mengulangi perbuatannya.

"Selain kita mintai perjanjian, yang bersangkutan juga kita minta untuk meminta maaf kepada para tokoh masyarakat dan para ulama yang sudah dibohongi atas perbuatannya. Permintaan maaf tersebut juga direkam video agar masyarakat bisa mengenali sosok Robi. Sehingga, jika di luar daerah berupaya melakukan aksi yang sama, masyarakat sudah bisa mengenali wajahnya," ungkap Budhi. Ditanya soal motif sandiwara yang dilakukan Robi, Budhi mengungkapkan bahwa, pria kelahiran Pontianak 18 Mei 1981 itu ingin bertemu dengan salah satu ulama di Sampang. Namun, untuk sampai ke Kabupaten 


Sampang tidak punya uang. Sehingga muncullah ide sandiwara tersebut.  "Sandiwara itu dirancang berdua bersama dengan istrinya," ujar Budhi.  KH. Fauroq Alawi, pengasuh Pondok Pesantren Attaroqqi, yang menjadi tujuan dikuburkannya mayat Robi mengaku sudah memaafkan semua tindakan yang dilakukan pria berambut gondrong tersebut. Selain memaafkan, Kiai Fauroq juga meminta agar Robi banyak bertobat karena sudah banyak membohongi orang atas perbuatannya.  "Saya berpesan kepada dia agar bertobat, tidak mengulangi perbuatannya lagi, rajin ibadah dan bekerja yang baik yang sesuai dengan anjuran syariat agama," ujar Kiai Fauroq. 


Pura-pura Mati Lalu Hidup Lagi, Robi yang juga Anggota Banser Akhirnya Dilepas Polisi



Netizen dibuat gempar dengan beredarnya video mayat seorang pria yang hidup lagi usai diturunkan dari sebuah mobil ambulance. Videonya pun menjadi viral di jagat maya.

Peristiwa yang menyedot perhatian warga itu terjadi di Pondok Karongan, Desa Tanggumong, Kecamatan Kota Sampang, Madura, Jawa Timur, Jumat (26/7/2019) malam.

Pria diketahui bernama Robi Anjal (60) warga Pontianak, Kalimantan Barat, itu  awalnya dinyatakan telah meninggal dunia.

Pihak keluarga sengaja membawa jasad Robi ke Pondok Karongan Sampang atas wasiatnya untuk dimakamkan di sekitar pondok pesantren.

Dalam video viral berdurasi 4 menit 15 detik, tampak jasad pria tersebut diturunkan dari mobil ambulance diduga milik salah satu rumah sakit asal Malang, Jawa Timur.

Namun, tiba-tiba jasad yang mengenakan kain kafan separuh badan ini memperlihatkan tanda-tanda dirinya masih hidup. Ia secara langsung kejang dan berteriak hingga tubuhnya jatuh dari atas ranjang ambulance.

Usut demi usut, ternyata perlakuan Robi Anjal yang menghebohkan masyarakat hanya akal-akalan belaka. Entah dengan maksud dan tujuan apa. Meski begitu, ia kini diamankan polisi di Mapolres Sampang.

Kepala Desa Tanggumong Halimi, menceritakan mobil ambulance yang membawa jasad pria itu tiba di pondok pesantren sekitar pukul 19.00 WIB. Awalnya tidak ada yang menyangka kematian pria tersebut hanya akal-akalan.

Sebab, jasadnya diantarkan oleh istri dan anaknya dari luar daerah menuju Sampang, Madura. Apalagi dibawa menggunakan mobil ambulance layaknya jenazah yang meninggal dari rumah sakit.

Mengetahui ada masyarakat yang meninggal, warga Tanggumong berbondong-bondong menggali kuburan untuk pemakaman.

“Iya, warga sudah selesai gali kuburan sejak sore tadi, karena mendapatkan informasi dari istrinya yang telfon ke salah satu kiai di pondok kalau mau dimakamkan disini sesuai wasiatnya, tapi ketika sampai disini malah hidup lagi dan membuat warga geger,” ucap Halimi, Sabtu (27/7/2019).
Halimi menuturkan, melihat keanehan dalam peristiwa tersebut. Anggota dari Babinsa dan Babinkamtibmas mengecek identitas keluarga Robi. Terbongkarnya praktek akal-akalan itu setelah petugas menemukan foto terakhir yang menandakan bahwa Robi masih hidup sehari sebelum kejadian.

“Dicek hp istrinya ternyata sempat foto bersama di Malang dan banyak kejanggalannya, masak waktu kejang hidup lagi dia langsung bisa ngomong dan berdiri tegak, dari situlah langsung diamankan khawatir takut di massa karena warga dibuat resah,” ungkapnya.

Polisi Selidiki Kejadian Pria yang Mati Hidup Lagi

Kapolres Sampang AKBP Budhi Wardiman melalui Kasat Reskrim AKP Subiantana, mengaku tengah menyelidiki peristiwa yang menghebohkan masyarakat Sampang. Hasil pemeriksaan sementara, kematian pria itu karena menjalani ilmu spiritual.

“Dia bukan mati, pengakuan dia bahwa sedang menjalani ilmu spiritual, kalau pengakuan istri bahwa suaminya mati hidup lagi, tapi kita untuk membuktikan itu butuh waktu,” katanya.

Menurutnya, apakah peristiwa ini ada unsur pidana penipuan atau lain, polisi masih menyelidikinya. “Yang bikin masyarakat kecewa karena sudah dilakukan penggalian kubur dan menggelar tahlilan, orang kan jadi kaget,” tuturnya.

“Kita belum tahu apa hubungannya dengan pihak pondok pesantren, tapi kalau tidak kenal gak mungkin di tahlilkan dan digali kuburan,” imbuhnya.

Sumber: faktakini

Menipu Warga Dengan Berpura-Pura Mati Lalu Hidup Lagi, Anggota Banser Mempawah Dikecam Umat



Pria bernama Robi Anjani yang diketahui anggota Banser PC Mempawah Pontianak, berpura-pura mati lalu hidup kembali. Video pria asal Pontianak itu viral di media sosial. Bahkan ada ucapan belasungkawa dari GP Ansor.

Peristiwa pura-pura mati anggota Banser ini lokasi kejadian di Sampang.

Dilansir detikcom, Kasubbag Humas Polres Sampang Ipda Eko Puji Waluyo mengatakan berdasarkan penyelidikan polisi, ternyata aksi yang dilakukan Robi ini karena dirinya terlilit utang.

"Kemarin waktu Pak Kasatreskrim menceritakan kronologisnya itu terkait utang piutang. Terus pura-pura meninggal," kata Eko kepada detikcom di Surabaya, Senin (29/7/2019).

Saat ditanya berapa utang yang dimiliki Robi, Eko menyebut nominalnya masih simpang siur. Kira-kira sekitar Rp 3 juta.

"Utangnya masih ndak begitu jelas, sekitar Rp 3 jutaan aja. Kok lucu sekali cara membebaskan utang kok gitu punya inisiatif dan idenya," imbuh Eko.

Sebelumnya, sebuah video berdurasi 4 menit 49 detik viral di media sosial. Video tersebut memperlihatkan seorang pria yang sudah meninggal tiba-tiba hidup kembali. Padahal, kondisi pria tersebut sudah memakai kain kafan di setengah tubuhnya.

Pria tersebut diketahui bernama Robi Anjal, warga Pontianak. Robi disebut memiliki wasiat jika meninggal ingin dikubur di sekitar Pondok Pesantren Karongan, Desa Tanggumong, Kecamatan Kota Sampang, Madura.

Dalam video viral itu, tampak jasad Robi diturunkan dari mobil ambulans. Namun, tiba-tiba jasad yang mengenakan kain kafan separuh badan ini memperlihatkan tanda-tanda jika masih hidup.

Sumber: detikcom

[Video Kejadian]

Anggota Banser Pura-Pura Mati, Polisi Sebut Karena Terlilit Utang



Tolak Politik Dinasti
PSI: Saatnya Bergerak Tolak Politik Dinasti yang Membunuh Demokrasi!

Politik dinasti telah membunuh sendi-sendi demokrasi. Saatnya rakyat bersama parpol yang masih punya nurani bergerak menolak politik dinasti.

"Justru sebenarnya kan inti dari demokrasi itu kan memberikan ruang seluas-luasnya kepada masyarakat dari latar belakang apa pun, apakah dia dari kalangan elite atau rakyat biasa supaya bisa berpartisipasi baik sebagai pemilih maupun orang yang dipilih. Dengan lahirnya politik dinasti itu justru mengingkari makna demokrasi itu sendiri," kata Sekjen Partai Solidaritas Indonesia Raja Juli Antoni, kepada detikcom, Selasa (23/6/2015).

Politik dinasti membuat kekuasaan hanya beredar atau berputar di kalangan keluarga tertentu. Ini indikasi bahwa demokrasi tidak berjalan di jalan yang baik dan ada kecenderungan pembusukan demokrasi, karena orang dipilih bukan karena kapasitas tapi karena keluarga orang tertentu.

"Karena itu saya kira salah satu gerakan yang harus didorong sekuat mungkin oleh LSM dan parpol mulai melihat manusia sebagai manusia. Jadi manusia bukan dilihat dari hubungan biologis atau genetisnya. Jangan biarkan politik dinasti membunuh demokrasi," tegas Mantan Ketua Umum PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) ini.


SEKARANG...

[Sabtu 27 Juli 2019]
PSI Siap Dukung Gibran atau Kaesang Maju Pilwakot Solo 2020

Dua putra Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep, masuk bursa calon Wali Kota Solo 2020-2025. PSI pun siap mendukung jika Gibran atau Kaesang maju dalam Pilwalkot Solo.

"Jadi PSI pasti akan mendukung, di Solo kami punya kursi. Apabila nanti pada saatnya melalui mekanisme, kalau salah seorang itu maju, PSI pasti akan dukung," ujar Sekjen PSI Raja Juli Antoni saat ditemui di gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (27/7/2019).


***

"Melebihi kodok umumnya, yang satu ini lidahnya jauh lebih panjang dan lengket. Jika kodok biasa hanya sebatas pusar, brofrog (fem: sisfrog), mampu menjilat lubang duburnya sendiri sampai hitam licin," komen warganet Aak Firdaus di akun fbnya.

PSI Dinilai Menjilat Ludah Sendiri, Dulu Tolak Politik Dinasti, Sekarang Siap Dukung Anak Jokowi



Seorang kepala desa di Sulawesi Utara diviralkan melakukan pelarangan ibadah bagi umat Muslim di sebuah musala di Perum Agape, Desa Tumaluntung, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Dari informasi yang dikumpulkan, pelarangan ibadah itu dilakukan dengan menyegel pintu masuk musala menggunakan kayu.

Penyegelan dilakukan karena tempat ibadah itu dianggap tidak memiliki izin. Tapi, saat dikonfirmasi langsung, Hukum Tua atau Kepala Desa Tumaluntung, Ifonda Nusah, membantah tegas kabar telah melakukan penutupan musala di Desa Tumaluntung, seperti yang disebarkan melalui video di media sosial.

Menurut Nusah, lokasi yang dipermasalahkan oleh warga bukan musala, melainkan Balai Pertemuan Al Hidayah di tempat tersebut. Menurutnya, tindakan ini dilakukan setelah ada desakan dari warga sekitar. Karena itu, dia melakukan pengecekan langsung untuk mengetahui apa sebenarnya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh warga.

“Itu bukan musala, tapi balai pertemuan. Nah, karena di situ mulai ada aktivitas ibadah maka masyarakat mempertanyakan kepada saya. Tugas saya sebagai pemerintah desa mengecek lokasi yang dipermasalahkan. Kalaupun itu rumah ibadah, maka pemerintah menanyakan izinnya. Jadi bukan saya melarang untuk beribadah di situ, bukan. Kalau ada yang beribadah, masa kami larang. Hanya saja untuk mendirikan rumah ibadah, harus ada izin,” katanya, Minggu 28 Juli 2019, dilansir Vivanews.

Sebagai perangkat desa, Nusah telah mengundang warga yang sering melakukan pertemuan di Balai Pertemuan Al Hidayah, tapi mereka tidak muncul. “Pertemuan itu digelar Kamis, 25 Juli 2019. Bertujuan mempertemukan warga di Desa Tumaluntung dengan warga yang sering datang di Balai Pertemuan Al Hidayah. Namun kami tunggu tidak datang-datang,” kata Nusah. 

Viral Kepala Desa di Minahasa Utara Segel Mushalla dan Melarang Orang Shalat, ini Alasanya



Gerakan Rakyat Tolak Aktor Koruptor (Gertak) mendukung penuh langkah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memperkarakan pembelian bus Transjakarta tahun 2013 atau saat ibukota dipimpin Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Sebab, pembelian 483 unit bus itu dinilai telah merugikan keuangan daerah.


"Kami mendukung sepenuhnya Pak Anies mengungkap pembelian 483 unit bus Transjakarta era Jokow-Ahok yang merugikan keuangan daerah," kata Sekjen Gertak, Dimas Tri Nugroho seperti diberitakan RMOLJakarta, Minggu (28/7). 

Tidak tanggung-tanggung, Gertak juga meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk turun tangan menuntaskan dugaan korupsi dalam proyek pengadaan bus Transjakarta tersebut. 

Anies berencana menggugat perusahaan penyedia pengadaan bus Transjakarta untuk mengembalikan uang muka pembelian sebesar Rp 110 miliar.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo menguraikan bahwa kasus ini akan dibawa ke ranah hukum.

Langkah hukum ini berdasarkan laporan hasil pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), di mana Pemprov DKI sudah menyetor uang muka sekitar Rp 110 miliar untuk pengadaan bus. 

Pasalnya, perjanjian pengadaan dengan pihak ketiga telah dinyatakan batal demi hukum. 

"Kita diminta untuk meminta kepada para pihak ketiga untuk mengembalikan uang muka yang sudah disetorkan, yang sudah ditarik oleh mereka,” ujar Syafrin. 

Namun demikian, Syafrin tidak menjelaskan secara detail perusahaan dan institusi mana saja yang akan digugat. 

“Sedang dalam proses. Saya belum dapat laporannya ada berapa tergugat,” tutup Syafrin. 

Adapun kini ratusan bus hasil pengadaan bermasalah tersebut menjadi “sampah”. Stiker-stiker hijau dengan klir tulisan hitam bertebaran di depan kaca-kaca barisan bus Transjakarta yang teronggok pada lahan di depan Rumah Sakit Karya Bakti Pertiwi, Jalan Raya Dramaga, Bogor. 

Salah satu stiker itu bertuliskan keterangan yang intinya bus-bus tersebut adalah aset-aset perusahaan yang sempat pengadaan bus Transjakarta tapi kini sedang pailit. [rm]

KPK Diminta Turun Tangan Atasi Bus Rongsok Era Jokowi-Ahok, Begini kata sekjen GERTAK



Seorang jemaah haji perempuan ditemukan tim sektor khusus Masjidil Haram di sebuah perkampungan dataran tinggi di wilayah Jiyad Mushafi Mekah, Arab Saudi, Sabtu, 27 Juli 2019. 

Jemaah yang ditemukan bernisial NR dari Embarkasi JKS Kloter 65. Ibu NR tinggal di Sektor 7 Misfalah nomor hotel 704. Ia ditemukan sedang naik ke atas puncak bukit yang juga pemukiman warga sekitar.

Kepala Sektor Khusus M Yamin menuturkan jemaah NR ditemukan berdasarkan laporan warga sekitar, yang melihat ada jemaah haji Indonesia yang nampak kebingungan dan mencoba naik ke atas bukit. Saat ditemukan, NR tidak mengenakan gelang tanda pengenal jemaah.

"Itu kami dapatkan dari orang Arab menelpon dan menyampaikan ke Seksus, dan kami bergerak untuk menjemput jemaah tersebut," kata M Yamin kepada Tim MCH saat mengevakuasi jemaah ke KKHI Mekah, Sabtu petang, 27 Juli 2019. 

Setibanya di lokasi, jemaah tersebut menolak untuk dievakuasi petugas Seksus dari atas bukit. Jemaah hanya bisa merespon ajakan petugas dengan bahasa daerahnya, Sunda. Petugas sempat mencari cara agar bisa membujuk Ibu NR agar mau dibawa pulang ke hotelnya. 

"Berbagai cara kita lakukan, dengan berzikir, dengan melakukan pembicaraan di telinganya, takbir, tahmid, alhamdulillah dia mau diajak turun dengan dipapah sampe ke bus, sampai ke bus terus kita ajak zikir dan diantar (ke KKHI)," ujarnya.

Berdasarkan kesaksian warga sekitar, jemaah tersebut sudah ada di daerah tersebut sejak Sabtu pagi. Ia bahkan sempat ditemukan tertidur di sebuah anak tangga, untuk naik ke atas bukit, diduga kelelahan. 

Sempat beberapa kali dibujuk, bahkan oleh petugas Seksus wanita, Ibu NR tetap menolak turun. Ia bersikeras naik ke atas bukit. "Karena maunya naik puncak gunung, bilangnya mau naik ke puncak Bogor," ungkapnya.

Akhirnya, setelah berhasil dievakuasi, Yamin bersama beberapa petugas Seksus wanita, langsung membawa jemaah NR untuk diperiksa tim medis KKHI. Sebab, Yamin menduga jemaah NR ini mengalami shock, karena melihat cuaca dan situasi berbeda seperti di daerahnya.

"Terpaksa kami bawa ke KKHI biar pelaksanaannya tuntas bisa diperiksa tim medis," ujar Yamin.[vv]

Detik-detik Ditemukanya Seorang Jemaah asal Indonesia di Perkampungan Dataran Tinggi Mekah



Seorang kepala desa di Sulawesi Utara diviralkan melakukan pelarangan ibadah bagi umat Muslim di sebuah musala di Perum Agape, Desa Tumaluntung, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Dari informasi yang dikumpulkan, pelarangan ibadah itu dilakukan dengan menyegel pintu masuk musala menggunakan kayu.

Penyegelan dilakukan karena tempat ibadah itu dianggap tidak memiliki izin. Tapi, saat dikonfirmasi langsung, Hukum Tua atau Kepala Desa Tumaluntung, Ifonda Nusah, membantah tegas kabar telah melakukan penutupan musala di Desa Tumaluntung, seperti yang disebarkan melalui video di media sosial.\


Menurut Nusah, lokasi yang dipermasalahkan oleh warga bukan musala, melainkan Balai Pertemuan Al Hidayah di tempat tersebut. Menurutnya, tindakan ini dilakukan setelah ada desakan dari warga sekitar. Karena itu, dia melakukan pengecekan langsung untuk mengetahui apa sebenarnya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh warga.

“Itu bukan musala, tapi balai pertemuan. Nah, karena di situ mulai ada aktivitas ibadah maka masyarakat mempertanyakan kepada saya. Tugas saya sebagai pemerintah desa mengecek lokasi yang dipermasalahkan. Kalaupun itu rumah ibadah, maka pemerintah menanyakan izinnya. Jadi bukan saya melarang untuk beribadah di situ, bukan. Kalau ada yang beribadah, masa kami larang. Hanya saja untuk mendirikan rumah ibadah, harus ada izin,” katanya, Minggu 28 Juli 2019, dilansir Vivanews.

Sebagai perangkat desa, Nusah telah mengundang warga yang sering melakukan pertemuan di Balai Pertemuan Al Hidayah, tapi mereka tidak muncul. “Pertemuan itu digelar Kamis, 25 Juli 2019. Bertujuan mempertemukan warga di Desa Tumaluntung dengan warga yang sering datang di Balai Pertemuan Al Hidayah. Namun kami tunggu tidak datang-datang,” kata Nusah. 

Viral Kepala Desa di Minahasa Utara Segel Mushalla